SIARANINDONESIA - Setelah kemarin sahabat bagai kepompongnya, Fadli Zon, berkomentar bahwa semua orang di mata hukum dan meski Kaesang adalah anak Presiden kasusnya harus tetap diproses dengan adil.
“Jadi, pada prinsipnya kita ini bersamaan kedudukan di dalam hukum, dari soal presiden sampai rakyat biasa mempunyai status yang sama, tidak ada yang mendapatkan kekebalan persoalan hukum, termasuk kalau yang dilaporkan itu anak presiden,”
“Harusnya sih tahu limitnya, tahu batasnya. Apalagi memang menyangkut anak pejabat, pasti akan disorot lebih lagi ketimbang orang biasa,
Kemudian ketika hari ini Wakapolri mengatakan bahwa aduan Muhammad Hidayat ke Kaesang lemah sehingga kasus tak akan diteruskan lagi-lagi Fadli berkomentar dan ‘menyelipkan iklan’ tentang orang yang didukungnya :
“Mungkin tanyakan ke kepolisian, saya tak tahu maksudnya bagaimana. Tapi memang sangat cepat sekali. Nah, kan penilaian ini menjadi penilaian subjektif, bagaimana dengan kasus lain yang saya juga berpendapat mengada-ada,”
“Tidak perlu ditindaklanjuti dan tidak perlu mentersangkakan orang termasuk kasus makar yang waktu itu menjelang Aksi 212, lalu Al-Khaththath jelang 313, itu kan mengada-ada. Tidak ada bukti sama sekali. Polisi harus hentikan,”
Senada dengan Fadli, Fahri pun menyampaikan pesan yang sama :
“Nasib Pak Khathath, Habieb Rizieq sudahlah di restore kembali ke titik nol. Sudah enggak ada lagi bentrok ini, kalau enggak kita berantem terus,”
“Kalau Presiden sudah ketemu GMPF MUI sebetulnya, harusnya polisi segera menahan diri untuk mengincar orang per orang,”
“Semua karena efek Pilkada DKI. Ini kita coba redam,”
“Caranya polisi bertindak adil, beban pilkada dki hrus dihentikan, ada caranya. Salah satunya mendudukan orang-orang yang berpekara,”
Saya yakin banyak yang beranggapan “halah omongannya Fadli sama Fahri mah nggak harus didengarkan“. Mereka ini memang diposisikan sebagai bad politician oleh partainya. Sehingga lewat mulut mereka lah pesan-pesan terselubung tersampaikan. Tapi menurut saya kita nggak boleh menyepelekan omongan mereka yang seringkali 99,99% bikin emosi itu. Kenapa? Karena banyak yang masih mendengarkan mereka dan percaya. Nggak percaya? Buktinya mereka masih saja terpilih di dapilnya masing-masing. Selain itu juga bagi kelompok anti Jokowi pendapat Fahri dan Fadli seringkali dijadikan acuan.
Sekarang lihat kontradiktifnya. Minta Kaesang diperlakukan sama. Tapi sekutu mereka maunya diistimewakan. Naon? Coba deh ditanyakan ke akal sehatnya Fadli dan Fahri apakah omongan “dasar ndeso” masuk kategori hate speech? Kalau yang ngomong “bunuh” “kafir” atau merencanakan makar saja buat mereka diposisikan “halah sudah didudukkan saja , jangan dihukum biar kita nggak berantem terus” harusnya sih sekedar ngomong “dasar ndeso” itu jauh tidak penting. Terus didudukkan itu maunya diapakan? Dinasehati “ Rizieq, Khathath, jangan bandel lagi ya mulutnya“. Begitu?
Ini semakin mengindikasikan bahwa memang Fahri, Fadli, Khathath, Rizieq adalah sekutu. Artinya tanpa sadar mereka sendiri mengakui memang ada skenario yang sudah disiapkan untuk Pilkada DKI Jakarta kemarin. Dan Rizieq serta Khathath adalah ujung tombak. Dan bukan tidak mungkin nanti di 2019 persekutuan ini akan kembali lagi agar big boss mereka bisa menjadi Presiden.
Kita kok bisa ya punya Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat seperti mereka? Alih-alih kerja benar buat rakyat rasanya mereka ini terlalu banyak memprioritaskan urusan partai dan golongannya. Dan saya rasa justru dua badut politik ini yang menjadi biang kegaduhan. Setiap hari selalu saja ada yang mereka komentari dan alih-alih membawa hawa adem malah membuat gejolak di masyarakat. Apakah menjadi politisi harus selalu menjadi gedibal penguasa yang membeking mereka? Sulitkah untuk menjadi wakil rakyat yang kerjanya benar, hasilnya nyata, dan komentar-komentarnya pun cerdas?
Posting Komentar